Artikel

Yahintara Bangun Rumah Singgah untuk Penderita TBC Paru

Tuberculosis (TBC), merupakan penyakit paling mematikan ketiga di dunia. Sebagian besar penderita TBC, tinggal di rumah yang tidak sehat dan tidak layak huni.

Rumah tanpa ventilasi atau jendela, sehingga sinar matahari tidak masuk ke dalam rumah. Padahal, bakteri TBC hanya akan mati oleh sinar matahari.

Atas dasar itu, Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (Yahintara) membangun rumah singgah bagi penderita penyakit Tuberculosis (TBC) di kabupaten Garut.

“Awalnya Yahintara mengkampanyekan rumah sehat ke kampung-kampung di Garut. Namun di lapangan, kami menemukan ada keluarga yang dikucilkan, karena menderita penyakit TBC, sehingga kami terdorong untuk membangun rumah singgah,” kata Ketua Yahintara Ruli Oktavian dalam rilis yang diterima galamedianews, Minggu (27/10/2019).

Rumah singgah ini akan dibangun pada lahan seluas empat tumbak, berlokasi di kampung Pajagalan desa Sukamantri Garut Kota.

“Lahannya disediakan Aisyiyah, organisasi perempuan peduli TBC. Sedangkan desain rumah singgah kami sayembarakan, untuk mendapatkan desain terbaik, dengan biaya murah tapi layak huni dan sehat,” terang Ruli.

Sayembara diikuti 17 peserta dari Lampung, Jawa dan Bali. Tiga peserta yakni dua dari Bandung dan satu dari Medan, masuk nominasi untuk meraih Oki Kusprianto Award, salah satu pendiri Yahintara.

Menurut Ruli, biaya pembangunan rumah singgah, diperkirakan sekitar Rp50 juta diperoleh dari para donatur.

“Saat ini dana yang sudah terkumpul Rp14 juta, berasal dari komunitas runner. Ada 50 pelari. Setiap lari satu kilometer, pelari menyumbang Rp10.000,” papar Ruli.

Tanpa ke rumah sakit

Menurut Yati aktivis TB Care Aisyiyah Garut, nantinya di rumah singgah penderita TBC dapat berkonsultasi tanpa harus ke rumah sakit.

“Penderita diisolasi selama 2 bulan minimal dua minggu di rumah singgah, agar bakterinya tidak menyebar,” uharnya.

Selama diisolasi, kata Yati, pihaknya akan terus memantau minum obat pasien, karena bila telat, pengobatannta akan lebih lama lagi dengan biaya cukup besar.

“Bila tidak rutin minum obat selama 6 sampai 7 bulan, akan lanjut jadi satu tahun dan penderita TBC setiap hari harus disuntik selama dua tahun,” ujarnya.

Sayembara pembangunan rumah singgah bagi penderita TBC ini, mendapat dukungan dari Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI).

Ketua IAI Jawa Barat Budi Yulianto mengatakan dengan sayembara, akan dihasilkan model yang terbaik.

“Kita harapkan sayembara ini jadi iklim yang baik, tanpa melihat skalanya tapi hasilnya terkurasi, karena ditentukan secara kolegial bukan karena pendekatan,” ujar Budi.

Budi berharap sayembara desain rumah singgah, bukan yang terahir tapi yang pertama dan kedepan akan lebih banyak lagi program sosial seperti ini.

Untuk itu ia menyarankan Yahintara segera membuat nota kesepahaman (MOU) dengan IAI, karena di IAI juga ada Badan Arsitektur berkelanjutan yang didalamnya termasuk pengabdian kepada masyarakat.

“Seandainya bisa, pengelolaan sayembara dan sponsornya bisa bersama-sama,” imbuhnya.

Editor: Brilliant Awal (galamedianews )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *